Rabu, 26 November 2014

Aku Cinta Kamu Tidak, Kamu Cinta Aku Tidak

"I gotta a heart and I gotta a soul.. Believe me I wanna use them both. We made a start, be it a false one, I know.. Baby I don’t want to feel alone...” Dari sudut taman kota terlihat Sania dan Jono memainkan jari-jari mereka diatas gitar bersuara merdu itu dan meng-cover lagu-lagu dari salah satu idola favorite mereka ‘One Direction’ dengan judul “18” dari album terbarunya.

“Hey! Dari kapan lo disitu? Sini dong!” Seketika Sania membuyarkan lamunanku

“Hey! Iya.” Dengan senyum tipis aku menyambut ajakannya dan duduk disamping mereka

“Eh, kok ngelamun terus sih? Jangan bilang lo lagi patah hati lagi! Kenapa lo?” Celoteh Jono yang sotoy dan keponya

“Iya, ni. Jangan galau mulu lah. Kasian tu hatinya. Hehe” Sambung Sania yang kini sibuk dengan ice cream-nya

“Ih, kalian berdua ini sotoy deh. Gue tu gak papa kali.” Sahutku dengan sedikit kesal

Akhir-akhir ini aku merasa aneh dengan gerak-gerik orang-orang yang ada disekitarku. Sampai sahabat-sahabatku bilang malah aku yang aneh. Ah, entahlah. Terkadang melihat orang lain itu lebih mudah dari pada melihat diri sendiri. Entah itu kebaikan atau keburukannya.

Satu tahun sudah aku menyukainya, namanya Rino. Waktu itu juga aku hanya bisa memendam rasa padanya hingga pada akhirnya dia tahu kalau aku menyukainya. Bukan aku yang mengatakan aku suka padanya, melainkan karena ia melihat status di akun facebook temanku yang menandaiku dari situ ia tahu kalau aku menyukainya. Namun begitu, dia terlihat tak menyukaiku. Lebih-lebih dia seperti tak mengetahuinya. Ya, peka yang gak peka itu ya kayak gini.

Satu tahun ini juga aku tersiksa dengan rasa aneh ini. Hingga aku berfikir  bagaimana jika aku melupakannya. Dan ternyata gak semudah itu. Melupakan seseorang yang kita sayangi itu seperti mencoba mengingat orang-orang yang sama sekali belum pernah kita kenal. Sulit.

Sebelum aku memutuskan untuk melupakannya, hubungan kami baik-baik saja seperti sahabat pada umumnya. Bercerita sana-sini, bercerita tentang hal-hal yang mungkin menurut orang lain ini adalah pembicaraan yang tabu dan konyol, bercerita tetang... Namun tidak tentang perasaan masing-masing kami.

Sejak aku belajar untuk melupakannya aku tak tahan ingin mengetahui kabar-kabarnya. Aku pun sering mengecek timeline-timelinenya. Dan saat itu juga aku memutuskan untuk meng-unfriend nya dengan cara memblokir semua akunnya dimedia sosial, tak membalas SMS nya, tak mengangkat teleponnya. Sampai aku muak dengan semua ini.

“Drrttt.. drtttt.. drrttt..” Suara Handphone-ku tanda pesan masuk

“Kamu kenapa sih? Kamu marah atau kenapa? Semua SMS ku kok gak dibales. Maaf kalok aku salah bicara, salah bersikap. Maaf ya.” SMS dari Rino itu pun seakan membuat jantungku berhenti berdetak, membuat nafasku sesak, diam tanpa kata hingga tak sadar air mataku tumpah. Aku merasa bersalah dengan sikapku ini, tapi apakah aku salah?

Seketika aku bingung harus berbuat apa. Apa aku salah menjauhinya dengan cara seperti ini. Aku terlalu lelah dengan perasaan ini. Perasaan yang tak pasti yang selalu menggantung dan membuat kacau hati dan pikiran. Apa aku salah? Tak tahan dengan rasa bersalahku aku pun mebalas SMS nya.

“Ahaha.. kenapa, No? kok minta maaf sih? Harusnya aku yang minta maaf.” Balas ku

“Terserahlah!” Jawabnya singkat

“Maaf.. :)” Balasku yang mengakhiri percakapan itu

Pagi hari nya..
Rino mengirimi ku pesan seolah memperbaiki hubungan tak jelas ini dengan pesan singkatnya, ia mengetikan “Selamat pagi, say”. Bagaimana seorang wanita tak mengharapkan lebih ketika ada seorang pria yang selalu bicara halus padanya dan selalu mengirimi kata-kata indah seperti untuk kekasihnya sendiri. Dan itu yang ku rasakan.

Apa mungkin aku terjebak dengan kisah cinta pertamaku ini. Baru kali ini juga aku menangisi seorang pria yang mungkin ini adalah hal konyol yang menjijikan bagi pikiran yang logis. Berbulan-bulan aku dan Rino bersikap seperti biasanya kami yang apa adanya berbulan-bulan juga masing-masing kami tak saling mengabari.

Sore itu hujan menghampiri dengan derasnya dan aku hanya mendengarkan lagu-lagu mellow yang mencoba mencairkan suasana hati yang rindu, dari dalam kamar aku selalu terpikir tentangnya. Saat itu aku berfikir bagaimana jika aku benar-benar menjauh darinya. Aku pun berjanji jika malam itu sampai hujan pun ikut berhenti Rino tak mengabariku itu tandanya aku memang harus pergi dari hidupnya dan melupakannya.

Dan benar malam itu ia tak ada kabar darinya. Satu minggu berlalu pesan-pesannya tak ada yang ku balas hingga dia mengirim pesan anehnya padaku “Cinta itu sebenarnya tak harus memilih yang sempurna dengan meninggalkan yang setia” sampai saat ini aku tak paham apa maksud dari pesannya itu.

Hari-hariku kini lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Aku sedikit banyak mulai bisa lupa dengan rasa yang membuat hari-hariku sakit. Teringat dengan akun-akun media sosialnya yang ku unfriend waktu itu, aku pun memulihkan semua akun-akunnya. Aku mulai bersikap biasa dan hari-hariku kuhabiskan dengan canda tawa dengan keluarga dan teman-temanku.

Sampai pada akhirnya temanku bilang,

“Derina! Kemana aja sih lo? Gue cariin juga.” Jono yang terengah-engah menghampiriku dari belakang

“Dari tadi juga gue ada dikantin. Lo tu yang dari mana sampe ngos-ngosan gitu?” Tanyaku pada sahabatku yang kadang nyebelin ini

“Oya, gue duduk sini ya. Gue punya kabar gembira buat lo ni. Tapi, jajanin gue somay ya!” Belum sempat aku meng-iyakan, dia pun “Mang, somay nya satu ya! Derina yang bayar.”

“Sip, Jon! Kayak biasa kan, gak pake pare?” teriak mang Iko, penjual somay dikantinku

“Iya, mang.” Tanpa menunggu lama somay pesanan si Jono pun sudah siap

“Oke, udah puas lo gue yang bayarin. Jadi, tadi lo mau ngomong apa?” Tanyaku dengan sedikit penasaran

“Wah lo penasaran ya? Oke, langsung aja. Rino cerita sama gue kalok dia suka sama lo, Rin.” Dengan mulut yang penuh dengan somay Jono menceritakan dengan detailnya

“Oh.” Jawabku singkat

“Kok Cuma ‘oh’ sih? Bukannya lo suka sama dia ya?” Tanyanya dengan tatapan aneh bak om-om genit yang ada ditaman lawang

“Itu dulu, sekarang enggak lagi.”

“Wah, sayang banget ya.” Sahut Sania si ratu kepo

Pikiranku pun main dan bertanya-tanya. Kenapa saat aku menyayanginya dengan sungguh-sungguh dia seolah mengabaikannya. Dan kini aku malah sebaliknya. Aku tak paham dengan ini semua. Kisah cinta macam apa ini. Aneh!

“Hoy!” Lagi-lagi Sania membuyarkan lamunanku

“Apa sih ni bocah?”

“Itu cepetan dimakan, kalok enggak mi ayamnya buat gue ni!” aku pun melanjutkan makan mi ayam kesukaanku.

Jam istirahat pun usai saatnya menghadapi pelajaran horror dengan gurunya yang killer. Sampai akhirnya terdengar bel tanda waktu pulang telah tiba. Dijalan pulang aku terpikir tentang kata-kata Jono waktu di kantin tadi. Yasudahlah, biarkan mengalir bagaimana semestinya aja.

‘Terkadang rasa sayang itu tak terlihat. Hingga pada akhirnya saat kau kesepian kau merindukan perhatian-perhatiannya. Jangan sia-sia kan orang yang selalu memberi perhatian padamu sebenarnya dialah sayangmu itu. Sebelum ia lelah dengan semuanya dan memilih berhenti menyayangimu maka sayangilah dia.’ kutuliskan kalimat ini pada secarik kertas yang entah untuk siapa aku persembahkan.

Tak terasa aku sekarang kelas 12. Hitungan minggu lagi pengumuman hasil kelulusan. Oya, aku sudah lost contact dengan Rino entah bagaimana kabarnya saat ini. Semoga dia baik-baik saja.

Hari kelulusan pun tiba. Aku dan teman-teman pun merayakannya dengan suka cita. Tiba-tiba mataku tertuju pada sosok pria yang ada di dekat pohon cemara disekolahku dan aku merasa tak asing dengan pria yang satu ini. Ya, dia Rino.

Dia menghampiriku dan mengatakan “Congratulation ya, Rin! Kamu memang hebat.” Aku pun hanya membalasnya dengan senyum tipisku. Sejak saat itu aku hanya bisa menganggapnya sebagai sahabatku dan gak lebih.

*END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar