"I gotta a heart and I
gotta a soul.. Believe me I wanna use them both. We made a start, be it a false
one, I know.. Baby I don’t want to feel alone...” Dari sudut taman kota terlihat
Sania dan Jono memainkan jari-jari mereka diatas gitar bersuara merdu itu dan
meng-cover lagu-lagu dari salah satu idola favorite mereka ‘One Direction’
dengan judul “18” dari album terbarunya.
“Hey! Dari kapan lo
disitu? Sini dong!” Seketika Sania membuyarkan lamunanku
“Hey! Iya.” Dengan senyum
tipis aku menyambut ajakannya dan duduk disamping mereka
“Eh, kok ngelamun terus
sih? Jangan bilang lo lagi patah hati lagi! Kenapa lo?” Celoteh Jono yang sotoy
dan keponya
“Iya, ni. Jangan galau
mulu lah. Kasian tu hatinya. Hehe” Sambung Sania yang kini sibuk dengan ice
cream-nya
“Ih, kalian berdua ini
sotoy deh. Gue tu gak papa kali.” Sahutku dengan sedikit kesal
Akhir-akhir ini aku merasa
aneh dengan gerak-gerik orang-orang yang ada disekitarku. Sampai
sahabat-sahabatku bilang malah aku yang aneh. Ah, entahlah. Terkadang melihat
orang lain itu lebih mudah dari pada melihat diri sendiri. Entah itu kebaikan
atau keburukannya.
Satu tahun sudah aku
menyukainya, namanya Rino. Waktu itu juga aku hanya bisa memendam rasa padanya
hingga pada akhirnya dia tahu kalau aku menyukainya. Bukan aku yang mengatakan
aku suka padanya, melainkan karena ia melihat status di akun facebook temanku
yang menandaiku dari situ ia tahu kalau aku menyukainya. Namun begitu, dia
terlihat tak menyukaiku. Lebih-lebih dia seperti tak mengetahuinya. Ya, peka
yang gak peka itu ya kayak gini.
Satu tahun ini juga aku
tersiksa dengan rasa aneh ini. Hingga aku berfikir bagaimana jika aku melupakannya. Dan ternyata
gak semudah itu. Melupakan seseorang yang kita sayangi itu seperti mencoba
mengingat orang-orang yang sama sekali belum pernah kita kenal. Sulit.
Sebelum aku memutuskan
untuk melupakannya, hubungan kami baik-baik saja seperti sahabat pada umumnya.
Bercerita sana-sini, bercerita tentang hal-hal yang mungkin menurut orang lain
ini adalah pembicaraan yang tabu dan konyol, bercerita tetang... Namun tidak
tentang perasaan masing-masing kami.
Sejak aku belajar untuk
melupakannya aku tak tahan ingin mengetahui kabar-kabarnya. Aku pun sering
mengecek timeline-timelinenya. Dan saat itu juga aku memutuskan untuk
meng-unfriend nya dengan cara memblokir semua akunnya dimedia sosial, tak
membalas SMS nya, tak mengangkat teleponnya. Sampai aku muak dengan semua ini.
“Drrttt.. drtttt..
drrttt..” Suara Handphone-ku tanda pesan masuk
“Kamu kenapa sih? Kamu
marah atau kenapa? Semua SMS ku kok gak dibales. Maaf kalok aku salah bicara,
salah bersikap. Maaf ya.” SMS dari Rino itu pun seakan membuat jantungku
berhenti berdetak, membuat nafasku sesak, diam tanpa kata hingga tak sadar air
mataku tumpah. Aku merasa bersalah dengan sikapku ini, tapi apakah aku salah?
Seketika aku bingung harus
berbuat apa. Apa aku salah menjauhinya dengan cara seperti ini. Aku terlalu
lelah dengan perasaan ini. Perasaan yang tak pasti yang selalu menggantung dan
membuat kacau hati dan pikiran. Apa aku salah? Tak tahan dengan rasa bersalahku
aku pun mebalas SMS nya.
“Ahaha.. kenapa, No? kok
minta maaf sih? Harusnya aku yang minta maaf.” Balas ku
“Terserahlah!” Jawabnya
singkat
“Maaf.. :)” Balasku yang
mengakhiri percakapan itu
Pagi hari nya..
Rino mengirimi ku pesan
seolah memperbaiki hubungan tak jelas ini dengan pesan singkatnya, ia
mengetikan “Selamat pagi, say”. Bagaimana seorang wanita tak mengharapkan lebih
ketika ada seorang pria yang selalu bicara halus padanya dan selalu mengirimi
kata-kata indah seperti untuk kekasihnya sendiri. Dan itu yang ku rasakan.
Apa mungkin aku terjebak
dengan kisah cinta pertamaku ini. Baru kali ini juga aku menangisi seorang pria
yang mungkin ini adalah hal konyol yang menjijikan bagi pikiran yang logis.
Berbulan-bulan aku dan Rino bersikap seperti biasanya kami yang apa adanya
berbulan-bulan juga masing-masing kami tak saling mengabari.
Sore itu hujan menghampiri
dengan derasnya dan aku hanya mendengarkan lagu-lagu mellow yang mencoba
mencairkan suasana hati yang rindu, dari dalam kamar aku selalu terpikir
tentangnya. Saat itu aku berfikir bagaimana jika aku benar-benar menjauh
darinya. Aku pun berjanji jika malam itu sampai hujan pun ikut berhenti Rino
tak mengabariku itu tandanya aku memang harus pergi dari hidupnya dan melupakannya.
Dan benar malam itu ia tak
ada kabar darinya. Satu minggu berlalu pesan-pesannya tak ada yang ku balas
hingga dia mengirim pesan anehnya padaku “Cinta itu sebenarnya tak harus
memilih yang sempurna dengan meninggalkan yang setia” sampai saat ini aku tak
paham apa maksud dari pesannya itu.
Hari-hariku kini lebih
baik dari hari-hari sebelumnya. Aku sedikit banyak mulai bisa lupa dengan rasa
yang membuat hari-hariku sakit. Teringat dengan akun-akun media sosialnya yang
ku unfriend waktu itu, aku pun memulihkan semua akun-akunnya. Aku mulai
bersikap biasa dan hari-hariku kuhabiskan dengan canda tawa dengan keluarga dan
teman-temanku.
Sampai pada akhirnya
temanku bilang,
“Derina! Kemana aja sih
lo? Gue cariin juga.” Jono yang terengah-engah menghampiriku dari belakang
“Dari tadi juga gue ada
dikantin. Lo tu yang dari mana sampe ngos-ngosan gitu?” Tanyaku pada sahabatku
yang kadang nyebelin ini
“Oya, gue duduk sini ya.
Gue punya kabar gembira buat lo ni. Tapi, jajanin gue somay ya!” Belum sempat
aku meng-iyakan, dia pun “Mang, somay nya satu ya! Derina yang bayar.”
“Sip, Jon! Kayak biasa
kan, gak pake pare?” teriak mang Iko, penjual somay dikantinku
“Iya, mang.” Tanpa
menunggu lama somay pesanan si Jono pun sudah siap
“Oke, udah puas lo gue
yang bayarin. Jadi, tadi lo mau ngomong apa?” Tanyaku dengan sedikit penasaran
“Wah lo penasaran ya? Oke,
langsung aja. Rino cerita sama gue kalok dia suka sama lo, Rin.” Dengan mulut
yang penuh dengan somay Jono menceritakan dengan detailnya
“Oh.” Jawabku singkat
“Kok Cuma ‘oh’ sih?
Bukannya lo suka sama dia ya?” Tanyanya dengan tatapan aneh bak om-om genit
yang ada ditaman lawang
“Itu dulu, sekarang enggak
lagi.”
“Wah, sayang banget ya.”
Sahut Sania si ratu kepo
Pikiranku pun main dan
bertanya-tanya. Kenapa saat aku menyayanginya dengan sungguh-sungguh dia seolah
mengabaikannya. Dan kini aku malah sebaliknya. Aku tak paham dengan ini semua.
Kisah cinta macam apa ini. Aneh!
“Hoy!” Lagi-lagi Sania
membuyarkan lamunanku
“Apa sih ni bocah?”
“Itu cepetan dimakan,
kalok enggak mi ayamnya buat gue ni!” aku pun melanjutkan makan mi ayam
kesukaanku.
Jam istirahat pun usai
saatnya menghadapi pelajaran horror dengan gurunya yang killer. Sampai akhirnya
terdengar bel tanda waktu pulang telah tiba. Dijalan pulang aku terpikir
tentang kata-kata Jono waktu di kantin tadi. Yasudahlah, biarkan mengalir
bagaimana semestinya aja.
‘Terkadang rasa sayang itu
tak terlihat. Hingga pada akhirnya saat kau kesepian kau merindukan
perhatian-perhatiannya. Jangan sia-sia kan orang yang selalu memberi perhatian
padamu sebenarnya dialah sayangmu itu. Sebelum ia lelah dengan semuanya dan
memilih berhenti menyayangimu maka sayangilah dia.’ kutuliskan kalimat ini pada
secarik kertas yang entah untuk siapa aku persembahkan.
Tak terasa aku sekarang
kelas 12. Hitungan minggu lagi pengumuman hasil kelulusan. Oya, aku sudah lost
contact dengan Rino entah bagaimana kabarnya saat ini. Semoga dia baik-baik
saja.
Hari kelulusan pun tiba.
Aku dan teman-teman pun merayakannya dengan suka cita. Tiba-tiba mataku tertuju
pada sosok pria yang ada di dekat pohon cemara disekolahku dan aku merasa tak
asing dengan pria yang satu ini. Ya, dia Rino.
Dia menghampiriku dan
mengatakan “Congratulation ya, Rin! Kamu memang hebat.” Aku pun hanya
membalasnya dengan senyum tipisku. Sejak saat itu aku hanya bisa menganggapnya
sebagai sahabatku dan gak lebih.
*END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar