Rabu, 26 November 2014

Mungkin Terlalu Cepat, Namun Tidak.

Saat itu, dari sudut ruangan yang lekat dengan serba-serbi berwarna biru sudah terdengar kokokan ayam yang mulai menyambut fajar yang sepertinya cerah ini. Pagi hari di rabu ini serasa beda dari hari biasanya. Mengapa? Entahlah.. Namaku Abel, lengkapnya Aqila Anabell Ramadhan Jusuf Sitompul. Orang bilang sih namaku kepanjangan, padahal kan iya. Haha.. Aku berdarah campuran Batak-Jawa dan aku tinggal dan besar di Kota gudeg. Ya, Jogja. Oya, tahun ini aku kelas 12. Dan Ujian Nasional pun sudah di depan mata.

Ujian.. Ujian.. Ujian. Selalu kata itu yang selalu mengganggu pikiranku dan teman-temanku akhir-akhir ini. Setiap tahun akhir pelajaran pasti selalu menghadapi hal ini. Ya, UJIAN. Tapi cerita ini bukan membahas tentang Ujian Nasional di akhir tahun pelajaran. Ini tentang aku dan dia.

Waktu itu di kantin..

“Rin, itu siapa ya? Kok jutek banget sih. Anak baru bukan? Kok aku jarang liat ya.” Tanyaku pada Karin sahabat sekaligus ibu kedua ku yang bawelnya udah tingkat dewa

“yang mana, Bel? Yang jaket merah bukan?” tanyanya balik

“iya, jaket merah itu!” telunjukku mengarah ke laki-laki yang sedang sibuk dengan handphone nya

“oh.. itu sih Ferdy. Anak 12 IPA 1. Dia pindahan dari Singapore lho..”

“hmm.. pantesan gayanya sok banget. Anak pindahan ternyata”

“kenapa? Jangan-jangan kamu suka ya? Ayo ngaku! Hihi”

“ih, amit-amit deh suka sama cowok yang juteknya nauzubilah.”

“wah.. hati-hati lho. Biasanya malah jadi cinta tu..” goda Karin padaku

“tetttt.. tett.. teeetttt..” bel tanda jam istirahat usai pun sudah berbunyi

Menandakan pelajaran guru kiler pun akan dimulai. FISIKA! Sebagian anak-anak dikelasku memang menyukai pelajaran yang satu ini dengan catatan ‘kalok ngerti suka ketagihan sama soal-soalnya, tapi sekalinya gak ngerti rasanya malah pengen banting gurunya aja.’ Haha. Maaf lho bu.  “drttt.. drtt..” getar hp-ku

Di-SMS..

“Abel, nanti jam pulang sekolah aku tunggu kamu dipinggir lapangan basket ya.”

“mau ngapain?”

“pokoknya aku tunggu!”

Sms dari Ian itu pun tak ku balas. Akhir-akhir ini dia suka menghubungiku. Oya, Ian itu sahabatku yang lain. Sekarang dia sudah masuk semester 3, di salah satu Universitas di kota ku. Dulu dia satu sekolah denganku. Iya, dia kakak tingkatku waktu SMP.

Waktu SMP kami dekat sampai-sampai banyak teman-temanku yang mngangkap kami pacaran. Dan aku pun tak memiliki rasa yang aneh-aneh padanya. Dia hanya sahabat, pembawa senyum disaat hari-hariku yang kusut begitupun dia. menurutku dia pun hanya menganggapku sahabatnya dan gak lebih dari apapun.

Jam pelajaran terakhir pun usai. Sekitar jam 4.30 kami keluar dari kelas. Dijalan pulang terkadang aku terpikir capek juga ya sekolah, kerjaannya gitu-gitu doing. Menghapal rumus, dihukum guru pas telat datang ke sekolah, ketemu guru-guru kiler, ngomongin hal-hal gak penting sama anak-anak sampai contek-mencontek waktu ujian. Tapi, kenapa banyak orang merindukan masa-masa yang menyebalkan ini ketika lulus? Hmm.. entahlah, dan mungkin aku pun akan merindukannya.

“dorrrrrr!” seketika Karin membuyarkan lamunanku

“kenapa sih? Lagi jalan kok malah ngelamun! Mikirin aku ya?” dengan muka sok imutnya dia menggodaku

“apa tau geh! Geer kamu, Rin. Yaudah aku duluan ya. See u!” aku pun langsung berlari meninggalkan Karin dan.. “ya, ampun aku baru ingat kalok ada janji” aku pun langsung pergi menuju lapangan basket dan saat tiba disana sudah ada seorang laki-lagi tinggi dengan jaket kulitnya seperti meenunggu seseorang.

“Hay, Yan. Apa kabar?”

“Kita jalan yuk! Kan udah lama gak ketemu!”

“Ih, gak nyambung deh. Ditanya kabar juga. Jalan kemana? Males ah..” dia pun langsung mencubit pipiku karena tak mungkin aku menolak ajakannya.

Setelah banyak cerita ngalor-ngidul dan jalan-jalan sampe sore, kami pun pulang. Sesampainya dirumah tiba-tiba aku malah terpikir tentang si jaket merah itu. Aneh juga sih, padahal kan aku abis jalan sama Ian tapi malah kepikiran cowok songong itu. Apa lagi baru ketemu sehari.

Esok harinya,
“ma, pa, aku berangkat duluan ya. Asalamualaikum..” aku pun berlalu meninggalkan meja makan

“eh.. sarapan dulu!” teriak mama

“buru-buru, ma!” teriakku dari luar pintu

“huh! Anak itu.” Kesal mama yang masih bisa kudengar

Wah.. Gak biasa juga sih jam segini udah nongkrong dikelas.
“waduh, buku Geografiku ketinggalan lagi.” Oke, tujuan datang pagi buta kayak gini itu buat ngerjain tugas Geografi. Dan anak-anak kelas 12 IPA2 belum ada yang datang kecuali aku. “owhstttt..” teriakku

“wah, udah ada yang datang juga ya. Padahal masih pagi banget.” Tiba-tiba terdengar suara bass dari luar kelasku

“mm.. eh.. iiya..” jawabku terbata

“kenapa teriak-teriak? Ada yang bisa aku bantu gak?”

“e.. enggak. Gak papa kok.”

“udah, jangan bohong. Oya, kenalin aku Ferdy anak 12 IPA 1. Jadi, apa yang bisa aku bantu?” tawarnya

“oh, iya. Aku Abel. Oke. Jadi, aku pagi-pagi buta udah di sekolah gini tu mau ngerjain tugas Geografi. Eh, bukunya malah ketinggalan.” Biasanya aku gak bisa langsung akrab seperti ini dengan orang yang baru ku kenal tapi yang ini rasanya beda

“ngomong dong dari tadi. Nih, aku bawa buku Geografi.”

Setelah basa-basi panjang lebar itu, Ferdy pun membantuku mengerjakan tugas mata pelajaran yang satu ini. Satu demi satu temanku pun berdatangan. Begitupun Nuri dan gank –nya yang heboh itu datang. Oya, Nuri and the gank-nya itu yang suka nyari masalah disekolahku. mereka juga pernah gak naik kelas bareng lho, itu sebabnya mereka sok banget disekolah karena sebenernya mereka kakak kelas ku kalok mereka lulus itu juga.

“cieee.. gebetan baru ya.” Suara cemprengnya mulai berkumandang dan aku masih sibuk mengerjakan tugasku

“hallo.. lo budek apa pura-pura budek sih? Gue lagi ngomong sama lo ni!” hempasan nafasnya pun menyerbak seperti kentut Bang Mamat tukang cendol yang ada di kantinku. Uwek.

“maaf, aku lagi ngerjain tugas jadi jangan ganggu ya!” tegasku

“udah, bilang aja lagi pada modus gitu!” cetusnya. Dan aku pun diam tak membalas ocehannya itu

“braggg!!” suara bantingan pintu. Nuri dan gank-nya pun langsung berlalu dengan melanjutkan ocehan-ocehannya karena aku tak menggubrisnya.

***
“tett.. tettt.. teettt..” bel istirahat

Seperti biasa, aku dan Karin pergi ke kantin. Tapi, biasa yang ini beda rasanya. Entah lah, Karin selalu menggodaku tentang si anak 12 IPA 1 itu dan setiap dia membahasnya aku jadi salah tingkah. Jujur, aku belum pernah merasakan hal semacam ini sebelumnya. Ah, entahlah.

Terkadang aku sering menghindar kalok teman-teman sekitarku udah mulai membahas ke pembicaraan yang topiknya “cinta”.  Rasanya itu kayak gak penting aja. Lebih-lebih kalok  udah ngomongin hati, perasaan atau apa pun itu pasti ujung-ujungnya merusak pikiran.

“hai, Abel ?”

“hai !”

“ada apa, Fer?”

“nanti malam ada acara gak? Jalan yuk!”

“gak ada kok. Emang mau kemana?”

“pokoknya aku jemput kamu jam 7.00 ya.. aku udah tau rumah kamu dari Karin” belum hampir ku jawab dia langsung lari ke kelasnya

Kenapa hati ini jadi aneh sih? Aku kan gak terlalu suka sama dia apa lagi awal lihat dia yang dengan songongnya berlalu dikantin. Tepat jam 7.00 dia benar menjeputku dengan motor hijaunya. Aku dengan setelan jeans hitam dipadu dengan T-sirt favorite ku. Kami berangkat sekitar jam 7.15.

Akhirnya sampai juga di tangkringan nya setelah berputar-putar kesana kemari. Kami pun memesan makanan yang ditawarkan tangkringan itu, nasi kucing. Suasana canggung pun kini mencair. Aku yang dingin padanya kini dapat tertawa lepas. Kami ngobrol sana-sini dan sampailah pada topic,

“oya, aku ngajak kamu kayak gini pacar kamu marah gak?”

“kenapa marah? Paling ngamuk!”

“waduh! Gimana dong. Nanti aku abis dimakannya lagi. Haha”

“santai aja kali. Aku belum punya pacar kok.”

“syukurlah..” bisiknya

“kenapa?”

“oh, enggak. Oya, boleh gak aku ngomong?”

“ngomong apa? Ngomong aja  kali gak perlu lapor dulu. Haha”

“haha.. aku sayang kamu, Bel”

Mataku tiba-tiba membulat, muka ku serasa panas, kakiku gemetar. Ini bukan cinta. Ini bukan.. ku coba yakinkan ini hanya candaan yang konyol. Ini terlalu cepat untuk seorang gadis yang belum pernah mengenal dunia cinta yang selalu melibatkan hati. Ini terlau cepat.

“maksudnya gimana, Fer?”

“aku sayang kamu, Bel. Dari pertama aku liat kamu di kantin waktu itu. Mau gak kamu jadi pacar aku? Kalok kamu gak mau juga gak papa kok.”

“maaf, Fer. Apa ini gak terlalu cepat ya? Aku gak bisa.”

Aku pun membayar makanan yang tadi ku pesan dan beranjak pergi dari tangkringan itu. Banyak yang ku pikirkan dan itu rasanya konyol aja. Ferdy pun menarik tangan ku dan meminta agar aku tetap dengannya. Dan aku pun duduk disampingnya.

“maaf, Bel. Mungkin ini terlalu cepat buat kamu. Tapi coba pikir deh! Rasa cinta atau sayang itu lambat laun akan menjadi besar dan lambat laun juga orang yang mencintai itu akan tersiksa batinnya saat dia tidak mengungkapkannya. Jadi, aku coba ngungkapin apa yang ada di hati aku. Dan setidaknya aku tahu, orang yang aku sayang tahu perasaanku.” Jelasnya

“maaf ya, Fer. Bukan maksudku apa-apa. Aku piker-pikir dulu ya. Minggu depan aku kasih jawabannya.”

Setelah kejadian itu aku merasa tidak enak. Tak nafsu makan, tak keluar kamar, ku selalu terpikir oleh kata-kata yang dilontarkan Ferdy waktu itu. Dan aku berfikir bagaimana kalok aku jalanin aja dulu tanpa melibatkan hati.

Seminggu kemudian Ferdy pun menghubungiku dan bertanya tentang jawaban itu. Aku menjawab “iya”. Setelah itu kami pacaran dan sebulan kami jalani, kami merasa nyaman dan sejak itu juga aku jatuh cinta padanya.

Ternyata cinta itu tak perlu menunggu waktu yang pas. Tak perlu, karena waktu yang pas itu sendiri yang akan datang pada cinta yang tak perlu menunggunya.

Hari UJIAN pun tiba. Semua siswa menjalaninya dengan antusias yang membara-bara dengan motivasi ‘kami akan lulus’ tak terkecuali aku dan Ferdy. Tiga minggu pun berlalu dan waktu yang ditunggu-tunggu itu pun datang. Ya, pengumuman kelulusan. Semua siswa sangat antusias dengan perasaan yang membuat mereka semua gugup dan khawatir, namun yakin akan lulus.

Kelulusan pun menjadi hal yang paling indah sepanjang sejarah masa-masa sekolah. Aku dan Ferdy pun lulus. Dan saat itu juga Ferdy mengatakan hal yang tidak pernah aku tahu selama ini.

“akhirnya kita lulus, Bel!” ucap Ferdy

“iya, Fer!” jawabku dengan singkat

“oya, ada hal yang harus aku bicarain ke kamu. Dan sebelumnya aku minta maaf. Sebenernya, kedua orang tua kita sudah menjodohkan kita sejak pertama kali aku kesini. karena kamu gak suka dijodoh-jodohi, orang tua kamu merahasiakan ini sampai kita lulus SMA. Maaf, aku gak bilang-bilang tentang ini ke kamu.” Berusaha menjelaskan

“kenapa? Aku harus marah?”

“kamu gak marah? Yesss!”

Sejak kelulusan itu kita selalu bersama dan melanjutkan ke salah satu universitas ternama di kota Jogja ini. Ya, satu universitas.

THE END

Aku Cinta Kamu Tidak, Kamu Cinta Aku Tidak

"I gotta a heart and I gotta a soul.. Believe me I wanna use them both. We made a start, be it a false one, I know.. Baby I don’t want to feel alone...” Dari sudut taman kota terlihat Sania dan Jono memainkan jari-jari mereka diatas gitar bersuara merdu itu dan meng-cover lagu-lagu dari salah satu idola favorite mereka ‘One Direction’ dengan judul “18” dari album terbarunya.

“Hey! Dari kapan lo disitu? Sini dong!” Seketika Sania membuyarkan lamunanku

“Hey! Iya.” Dengan senyum tipis aku menyambut ajakannya dan duduk disamping mereka

“Eh, kok ngelamun terus sih? Jangan bilang lo lagi patah hati lagi! Kenapa lo?” Celoteh Jono yang sotoy dan keponya

“Iya, ni. Jangan galau mulu lah. Kasian tu hatinya. Hehe” Sambung Sania yang kini sibuk dengan ice cream-nya

“Ih, kalian berdua ini sotoy deh. Gue tu gak papa kali.” Sahutku dengan sedikit kesal

Akhir-akhir ini aku merasa aneh dengan gerak-gerik orang-orang yang ada disekitarku. Sampai sahabat-sahabatku bilang malah aku yang aneh. Ah, entahlah. Terkadang melihat orang lain itu lebih mudah dari pada melihat diri sendiri. Entah itu kebaikan atau keburukannya.

Satu tahun sudah aku menyukainya, namanya Rino. Waktu itu juga aku hanya bisa memendam rasa padanya hingga pada akhirnya dia tahu kalau aku menyukainya. Bukan aku yang mengatakan aku suka padanya, melainkan karena ia melihat status di akun facebook temanku yang menandaiku dari situ ia tahu kalau aku menyukainya. Namun begitu, dia terlihat tak menyukaiku. Lebih-lebih dia seperti tak mengetahuinya. Ya, peka yang gak peka itu ya kayak gini.

Satu tahun ini juga aku tersiksa dengan rasa aneh ini. Hingga aku berfikir  bagaimana jika aku melupakannya. Dan ternyata gak semudah itu. Melupakan seseorang yang kita sayangi itu seperti mencoba mengingat orang-orang yang sama sekali belum pernah kita kenal. Sulit.

Sebelum aku memutuskan untuk melupakannya, hubungan kami baik-baik saja seperti sahabat pada umumnya. Bercerita sana-sini, bercerita tentang hal-hal yang mungkin menurut orang lain ini adalah pembicaraan yang tabu dan konyol, bercerita tetang... Namun tidak tentang perasaan masing-masing kami.

Sejak aku belajar untuk melupakannya aku tak tahan ingin mengetahui kabar-kabarnya. Aku pun sering mengecek timeline-timelinenya. Dan saat itu juga aku memutuskan untuk meng-unfriend nya dengan cara memblokir semua akunnya dimedia sosial, tak membalas SMS nya, tak mengangkat teleponnya. Sampai aku muak dengan semua ini.

“Drrttt.. drtttt.. drrttt..” Suara Handphone-ku tanda pesan masuk

“Kamu kenapa sih? Kamu marah atau kenapa? Semua SMS ku kok gak dibales. Maaf kalok aku salah bicara, salah bersikap. Maaf ya.” SMS dari Rino itu pun seakan membuat jantungku berhenti berdetak, membuat nafasku sesak, diam tanpa kata hingga tak sadar air mataku tumpah. Aku merasa bersalah dengan sikapku ini, tapi apakah aku salah?

Seketika aku bingung harus berbuat apa. Apa aku salah menjauhinya dengan cara seperti ini. Aku terlalu lelah dengan perasaan ini. Perasaan yang tak pasti yang selalu menggantung dan membuat kacau hati dan pikiran. Apa aku salah? Tak tahan dengan rasa bersalahku aku pun mebalas SMS nya.

“Ahaha.. kenapa, No? kok minta maaf sih? Harusnya aku yang minta maaf.” Balas ku

“Terserahlah!” Jawabnya singkat

“Maaf.. :)” Balasku yang mengakhiri percakapan itu

Pagi hari nya..
Rino mengirimi ku pesan seolah memperbaiki hubungan tak jelas ini dengan pesan singkatnya, ia mengetikan “Selamat pagi, say”. Bagaimana seorang wanita tak mengharapkan lebih ketika ada seorang pria yang selalu bicara halus padanya dan selalu mengirimi kata-kata indah seperti untuk kekasihnya sendiri. Dan itu yang ku rasakan.

Apa mungkin aku terjebak dengan kisah cinta pertamaku ini. Baru kali ini juga aku menangisi seorang pria yang mungkin ini adalah hal konyol yang menjijikan bagi pikiran yang logis. Berbulan-bulan aku dan Rino bersikap seperti biasanya kami yang apa adanya berbulan-bulan juga masing-masing kami tak saling mengabari.

Sore itu hujan menghampiri dengan derasnya dan aku hanya mendengarkan lagu-lagu mellow yang mencoba mencairkan suasana hati yang rindu, dari dalam kamar aku selalu terpikir tentangnya. Saat itu aku berfikir bagaimana jika aku benar-benar menjauh darinya. Aku pun berjanji jika malam itu sampai hujan pun ikut berhenti Rino tak mengabariku itu tandanya aku memang harus pergi dari hidupnya dan melupakannya.

Dan benar malam itu ia tak ada kabar darinya. Satu minggu berlalu pesan-pesannya tak ada yang ku balas hingga dia mengirim pesan anehnya padaku “Cinta itu sebenarnya tak harus memilih yang sempurna dengan meninggalkan yang setia” sampai saat ini aku tak paham apa maksud dari pesannya itu.

Hari-hariku kini lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Aku sedikit banyak mulai bisa lupa dengan rasa yang membuat hari-hariku sakit. Teringat dengan akun-akun media sosialnya yang ku unfriend waktu itu, aku pun memulihkan semua akun-akunnya. Aku mulai bersikap biasa dan hari-hariku kuhabiskan dengan canda tawa dengan keluarga dan teman-temanku.

Sampai pada akhirnya temanku bilang,

“Derina! Kemana aja sih lo? Gue cariin juga.” Jono yang terengah-engah menghampiriku dari belakang

“Dari tadi juga gue ada dikantin. Lo tu yang dari mana sampe ngos-ngosan gitu?” Tanyaku pada sahabatku yang kadang nyebelin ini

“Oya, gue duduk sini ya. Gue punya kabar gembira buat lo ni. Tapi, jajanin gue somay ya!” Belum sempat aku meng-iyakan, dia pun “Mang, somay nya satu ya! Derina yang bayar.”

“Sip, Jon! Kayak biasa kan, gak pake pare?” teriak mang Iko, penjual somay dikantinku

“Iya, mang.” Tanpa menunggu lama somay pesanan si Jono pun sudah siap

“Oke, udah puas lo gue yang bayarin. Jadi, tadi lo mau ngomong apa?” Tanyaku dengan sedikit penasaran

“Wah lo penasaran ya? Oke, langsung aja. Rino cerita sama gue kalok dia suka sama lo, Rin.” Dengan mulut yang penuh dengan somay Jono menceritakan dengan detailnya

“Oh.” Jawabku singkat

“Kok Cuma ‘oh’ sih? Bukannya lo suka sama dia ya?” Tanyanya dengan tatapan aneh bak om-om genit yang ada ditaman lawang

“Itu dulu, sekarang enggak lagi.”

“Wah, sayang banget ya.” Sahut Sania si ratu kepo

Pikiranku pun main dan bertanya-tanya. Kenapa saat aku menyayanginya dengan sungguh-sungguh dia seolah mengabaikannya. Dan kini aku malah sebaliknya. Aku tak paham dengan ini semua. Kisah cinta macam apa ini. Aneh!

“Hoy!” Lagi-lagi Sania membuyarkan lamunanku

“Apa sih ni bocah?”

“Itu cepetan dimakan, kalok enggak mi ayamnya buat gue ni!” aku pun melanjutkan makan mi ayam kesukaanku.

Jam istirahat pun usai saatnya menghadapi pelajaran horror dengan gurunya yang killer. Sampai akhirnya terdengar bel tanda waktu pulang telah tiba. Dijalan pulang aku terpikir tentang kata-kata Jono waktu di kantin tadi. Yasudahlah, biarkan mengalir bagaimana semestinya aja.

‘Terkadang rasa sayang itu tak terlihat. Hingga pada akhirnya saat kau kesepian kau merindukan perhatian-perhatiannya. Jangan sia-sia kan orang yang selalu memberi perhatian padamu sebenarnya dialah sayangmu itu. Sebelum ia lelah dengan semuanya dan memilih berhenti menyayangimu maka sayangilah dia.’ kutuliskan kalimat ini pada secarik kertas yang entah untuk siapa aku persembahkan.

Tak terasa aku sekarang kelas 12. Hitungan minggu lagi pengumuman hasil kelulusan. Oya, aku sudah lost contact dengan Rino entah bagaimana kabarnya saat ini. Semoga dia baik-baik saja.

Hari kelulusan pun tiba. Aku dan teman-teman pun merayakannya dengan suka cita. Tiba-tiba mataku tertuju pada sosok pria yang ada di dekat pohon cemara disekolahku dan aku merasa tak asing dengan pria yang satu ini. Ya, dia Rino.

Dia menghampiriku dan mengatakan “Congratulation ya, Rin! Kamu memang hebat.” Aku pun hanya membalasnya dengan senyum tipisku. Sejak saat itu aku hanya bisa menganggapnya sebagai sahabatku dan gak lebih.

*END