Saat itu, dari sudut ruangan yang lekat dengan serba-serbi
berwarna biru sudah terdengar kokokan ayam yang mulai menyambut fajar yang sepertinya
cerah ini. Pagi hari di rabu ini serasa beda dari hari biasanya. Mengapa?
Entahlah.. Namaku Abel, lengkapnya Aqila Anabell Ramadhan Jusuf Sitompul. Orang
bilang sih namaku kepanjangan, padahal kan iya. Haha.. Aku berdarah campuran
Batak-Jawa dan aku tinggal dan besar di Kota gudeg. Ya, Jogja. Oya, tahun ini
aku kelas 12. Dan Ujian Nasional pun sudah di depan mata.
Ujian.. Ujian.. Ujian. Selalu kata itu yang selalu mengganggu
pikiranku dan teman-temanku akhir-akhir ini. Setiap tahun akhir pelajaran pasti
selalu menghadapi hal ini. Ya, UJIAN. Tapi cerita ini bukan membahas tentang
Ujian Nasional di akhir tahun pelajaran. Ini tentang aku dan dia.
Waktu itu di kantin..
“Rin, itu siapa ya? Kok jutek banget sih. Anak baru bukan? Kok
aku jarang liat ya.” Tanyaku pada Karin sahabat sekaligus ibu kedua ku yang
bawelnya udah tingkat dewa
“yang mana, Bel? Yang jaket merah bukan?” tanyanya balik
“iya, jaket merah itu!” telunjukku mengarah ke laki-laki yang
sedang sibuk dengan handphone nya
“oh.. itu sih Ferdy. Anak 12 IPA 1. Dia pindahan dari
Singapore lho..”
“hmm.. pantesan gayanya sok banget. Anak pindahan ternyata”
“kenapa? Jangan-jangan kamu suka ya? Ayo ngaku! Hihi”
“ih, amit-amit deh suka sama cowok yang juteknya nauzubilah.”
“wah.. hati-hati lho. Biasanya malah jadi cinta tu..” goda
Karin padaku
“tetttt.. tett.. teeetttt..” bel tanda jam istirahat usai pun
sudah berbunyi
Menandakan pelajaran guru kiler pun akan dimulai. FISIKA! Sebagian
anak-anak dikelasku memang menyukai pelajaran yang satu ini dengan catatan ‘kalok
ngerti suka ketagihan sama soal-soalnya, tapi sekalinya gak ngerti rasanya malah
pengen banting gurunya aja.’ Haha. Maaf lho bu.
“drttt.. drtt..” getar hp-ku
Di-SMS..
“Abel, nanti jam pulang sekolah aku tunggu kamu dipinggir
lapangan basket ya.”
“mau ngapain?”
“pokoknya aku tunggu!”
Sms dari Ian itu pun tak ku balas. Akhir-akhir ini dia suka menghubungiku.
Oya, Ian itu sahabatku yang lain. Sekarang dia sudah masuk semester 3, di salah
satu Universitas di kota ku. Dulu dia satu sekolah denganku. Iya, dia kakak
tingkatku waktu SMP.
Waktu SMP kami dekat sampai-sampai banyak teman-temanku yang mngangkap
kami pacaran. Dan aku pun tak memiliki rasa yang aneh-aneh padanya. Dia hanya
sahabat, pembawa senyum disaat hari-hariku yang kusut begitupun dia. menurutku
dia pun hanya menganggapku sahabatnya dan gak lebih dari apapun.
Jam pelajaran terakhir pun usai. Sekitar jam 4.30 kami keluar
dari kelas. Dijalan pulang terkadang aku terpikir capek juga ya sekolah,
kerjaannya gitu-gitu doing. Menghapal rumus, dihukum guru pas telat datang ke
sekolah, ketemu guru-guru kiler, ngomongin hal-hal gak penting sama anak-anak
sampai contek-mencontek waktu ujian. Tapi, kenapa banyak orang merindukan
masa-masa yang menyebalkan ini ketika lulus? Hmm.. entahlah, dan mungkin aku
pun akan merindukannya.
“dorrrrrr!” seketika Karin membuyarkan lamunanku
“kenapa sih? Lagi jalan kok malah ngelamun! Mikirin aku ya?”
dengan muka sok imutnya dia menggodaku
“apa tau geh! Geer kamu, Rin. Yaudah aku duluan ya. See u!”
aku pun langsung berlari meninggalkan Karin dan.. “ya, ampun aku baru ingat
kalok ada janji” aku pun langsung pergi menuju lapangan basket dan saat tiba
disana sudah ada seorang laki-lagi tinggi dengan jaket kulitnya seperti
meenunggu seseorang.
“Hay, Yan. Apa kabar?”
“Kita jalan yuk! Kan udah lama gak ketemu!”
“Ih, gak nyambung deh. Ditanya kabar juga. Jalan kemana? Males
ah..” dia pun langsung mencubit pipiku karena tak mungkin aku menolak
ajakannya.
Setelah banyak cerita ngalor-ngidul
dan jalan-jalan sampe sore, kami pun pulang. Sesampainya dirumah tiba-tiba aku
malah terpikir tentang si jaket merah itu. Aneh juga sih, padahal kan aku abis
jalan sama Ian tapi malah kepikiran cowok songong itu. Apa lagi baru ketemu
sehari.
Esok harinya,
“ma, pa, aku berangkat duluan ya. Asalamualaikum..” aku pun
berlalu meninggalkan meja makan
“eh.. sarapan dulu!” teriak mama
“buru-buru, ma!” teriakku dari luar pintu
“huh! Anak itu.” Kesal mama yang masih bisa kudengar
Wah.. Gak biasa juga sih jam segini udah nongkrong dikelas.
“waduh, buku Geografiku ketinggalan lagi.” Oke, tujuan datang
pagi buta kayak gini itu buat ngerjain tugas Geografi. Dan anak-anak kelas 12
IPA2 belum ada yang datang kecuali aku. “owhstttt..” teriakku
“wah, udah ada yang datang juga ya. Padahal masih pagi
banget.” Tiba-tiba terdengar suara bass dari luar kelasku
“mm.. eh.. iiya..” jawabku terbata
“kenapa teriak-teriak? Ada yang bisa aku bantu gak?”
“e.. enggak. Gak papa kok.”
“udah, jangan bohong. Oya, kenalin aku Ferdy anak 12 IPA 1.
Jadi, apa yang bisa aku bantu?” tawarnya
“oh, iya. Aku Abel. Oke. Jadi, aku pagi-pagi buta udah di
sekolah gini tu mau ngerjain tugas Geografi. Eh, bukunya malah ketinggalan.”
Biasanya aku gak bisa langsung akrab seperti ini dengan orang yang baru ku
kenal tapi yang ini rasanya beda
“ngomong dong dari tadi. Nih, aku bawa buku Geografi.”
Setelah basa-basi panjang lebar itu, Ferdy pun membantuku
mengerjakan tugas mata pelajaran yang satu ini. Satu demi satu temanku pun
berdatangan. Begitupun Nuri dan gank –nya
yang heboh itu datang. Oya, Nuri and the
gank-nya itu yang suka nyari masalah disekolahku. mereka juga pernah gak
naik kelas bareng lho, itu sebabnya mereka sok banget disekolah karena
sebenernya mereka kakak kelas ku kalok mereka lulus itu juga.
“cieee.. gebetan baru ya.” Suara cemprengnya mulai
berkumandang dan aku masih sibuk mengerjakan tugasku
“hallo.. lo budek apa pura-pura budek sih? Gue lagi ngomong
sama lo ni!” hempasan nafasnya pun menyerbak seperti kentut Bang Mamat tukang
cendol yang ada di kantinku. Uwek.
“maaf, aku lagi ngerjain tugas jadi jangan ganggu ya!” tegasku
“udah, bilang aja lagi pada modus gitu!” cetusnya. Dan aku pun
diam tak membalas ocehannya itu
“braggg!!” suara bantingan pintu. Nuri dan gank-nya pun langsung berlalu dengan melanjutkan
ocehan-ocehannya karena aku tak menggubrisnya.
***
“tett.. tettt.. teettt..” bel istirahat
Seperti biasa, aku dan Karin pergi ke kantin. Tapi, biasa yang
ini beda rasanya. Entah lah, Karin selalu menggodaku tentang si anak 12 IPA 1
itu dan setiap dia membahasnya aku jadi salah tingkah. Jujur, aku belum pernah
merasakan hal semacam ini sebelumnya. Ah, entahlah.
Terkadang aku sering menghindar kalok teman-teman sekitarku
udah mulai membahas ke pembicaraan yang topiknya “cinta”. Rasanya itu kayak gak penting aja.
Lebih-lebih kalok udah ngomongin hati,
perasaan atau apa pun itu pasti ujung-ujungnya merusak pikiran.
“hai, Abel ?”
“hai !”
“ada apa, Fer?”
“nanti malam ada acara gak? Jalan yuk!”
“gak ada kok. Emang mau kemana?”
“pokoknya aku jemput kamu jam 7.00 ya.. aku udah tau rumah
kamu dari Karin” belum hampir ku jawab dia langsung lari ke kelasnya
Kenapa hati ini jadi aneh sih? Aku kan gak terlalu suka sama
dia apa lagi awal lihat dia yang dengan songongnya berlalu dikantin. Tepat jam
7.00 dia benar menjeputku dengan motor hijaunya. Aku dengan setelan jeans hitam dipadu dengan T-sirt favorite ku. Kami berangkat sekitar
jam 7.15.
Akhirnya sampai juga di tangkringan
nya setelah berputar-putar kesana kemari. Kami pun memesan makanan yang
ditawarkan tangkringan itu, nasi
kucing. Suasana canggung pun kini mencair. Aku yang dingin padanya kini dapat
tertawa lepas. Kami ngobrol sana-sini dan sampailah pada topic,
“oya, aku ngajak kamu kayak gini pacar kamu marah gak?”
“kenapa marah? Paling ngamuk!”
“waduh! Gimana dong. Nanti aku abis dimakannya lagi. Haha”
“santai aja kali. Aku belum punya pacar kok.”
“syukurlah..” bisiknya
“kenapa?”
“oh, enggak. Oya, boleh gak aku ngomong?”
“ngomong apa? Ngomong aja
kali gak perlu lapor dulu. Haha”
“haha.. aku sayang kamu, Bel”
Mataku tiba-tiba membulat, muka ku serasa panas, kakiku
gemetar. Ini bukan cinta. Ini bukan.. ku coba yakinkan ini hanya candaan yang
konyol. Ini terlalu cepat untuk seorang gadis yang belum pernah mengenal dunia
cinta yang selalu melibatkan hati. Ini terlau cepat.
“maksudnya gimana, Fer?”
“aku sayang kamu, Bel. Dari pertama aku liat kamu di kantin
waktu itu. Mau gak kamu jadi pacar aku? Kalok kamu gak mau juga gak papa kok.”
“maaf, Fer. Apa ini gak terlalu cepat ya? Aku gak bisa.”
Aku pun membayar makanan yang tadi ku pesan dan beranjak pergi
dari tangkringan itu. Banyak yang ku
pikirkan dan itu rasanya konyol aja. Ferdy pun menarik tangan ku dan meminta agar
aku tetap dengannya. Dan aku pun duduk disampingnya.
“maaf, Bel. Mungkin ini terlalu cepat buat kamu. Tapi coba pikir
deh! Rasa cinta atau sayang itu lambat laun akan menjadi besar dan lambat laun
juga orang yang mencintai itu akan tersiksa batinnya saat dia tidak
mengungkapkannya. Jadi, aku coba ngungkapin apa yang ada di hati aku. Dan
setidaknya aku tahu, orang yang aku sayang tahu perasaanku.” Jelasnya
“maaf ya, Fer. Bukan maksudku apa-apa. Aku piker-pikir dulu
ya. Minggu depan aku kasih jawabannya.”
Setelah kejadian itu aku merasa tidak enak. Tak nafsu makan,
tak keluar kamar, ku selalu terpikir oleh kata-kata yang dilontarkan Ferdy
waktu itu. Dan aku berfikir bagaimana kalok aku jalanin aja dulu tanpa
melibatkan hati.
Seminggu kemudian Ferdy pun menghubungiku dan bertanya tentang
jawaban itu. Aku menjawab “iya”. Setelah itu kami pacaran dan sebulan kami
jalani, kami merasa nyaman dan sejak itu juga aku jatuh cinta padanya.
Ternyata cinta itu tak perlu menunggu waktu yang pas. Tak
perlu, karena waktu yang pas itu sendiri yang akan datang pada cinta yang tak
perlu menunggunya.
Hari UJIAN pun tiba. Semua siswa menjalaninya dengan antusias
yang membara-bara dengan motivasi ‘kami akan lulus’ tak terkecuali aku dan
Ferdy. Tiga minggu pun berlalu dan waktu yang ditunggu-tunggu itu pun datang.
Ya, pengumuman kelulusan. Semua siswa sangat antusias dengan perasaan yang
membuat mereka semua gugup dan khawatir, namun yakin akan lulus.
Kelulusan pun menjadi hal yang paling indah sepanjang sejarah
masa-masa sekolah. Aku dan Ferdy pun lulus. Dan saat itu juga Ferdy mengatakan
hal yang tidak pernah aku tahu selama ini.
“akhirnya kita lulus, Bel!” ucap Ferdy
“iya, Fer!” jawabku dengan singkat
“oya, ada hal yang harus aku bicarain ke kamu. Dan sebelumnya
aku minta maaf. Sebenernya, kedua orang tua kita sudah menjodohkan kita sejak
pertama kali aku kesini. karena kamu gak suka dijodoh-jodohi, orang tua kamu
merahasiakan ini sampai kita lulus SMA. Maaf, aku gak bilang-bilang tentang ini
ke kamu.” Berusaha menjelaskan
“kenapa? Aku harus marah?”
“kamu gak marah? Yesss!”
Sejak kelulusan itu kita selalu bersama dan melanjutkan ke
salah satu universitas ternama di kota Jogja ini. Ya, satu universitas.
THE END