Percikan air dari langit itu turun lagi menemani hari-hari yang bisa dibilang menyebalkan di desember ini. Kenapa tidak? Liburan telah tiba dan aku hanya berdiam diri di ruangan gelap yang hanya ada sedikit cahaya dari jendela yang tertutup kain biru disiang hari itu. Dan jika malam tiba hanya berteman dengan papan ketik dan layar desktop dengan tulisan-tulisan tak penting untuk persiapan UAS semester nanti. Belum lagi jika hujan dimalam hari menghampiri susunan tanah liat beku itu. Bibir ini hanya dapat meneriakan kata-kata.. "Mahh.. Kamarku banjir lagi! Huaaaa.."
Oke, liburan kali ini juga adalah liburan yang paling lama rasanya. Ya, satu tahun untuk bermalas ria tanpa kegiatan yang memberatkan. Serius, gak percaya liburnya satu tahun? Wah, menyedihkan sekali. Jadi, kan mulai libur di Desember 2009 dan masuk lagi di Januari 2010. Satu tahun kan? Gak percaya sih. Lanjut ya.. Namun tetap saja membosankan dan menyebalkan. Saat-saat seperti ini kadang memancing ingatan tentang kenangan yang lalu-lalu. Lucu, konyol, menegangkan, bahkan yang menyedihkan pun datang.
Desember. Bulan ini adalah bulan kelahiranku. Kadang penuh kejutan dan bahkan bisa sangat biasa saja. Namun setelah aku masuk ke sekolah itu, desemberku begitu indah, berkesan dan selalu ku rindukan. Entahlah, disatu sisi aku ingin selalu ada di desember ini. Namun disisi lain aku benci dengan kegiatan libur-libur ini, dan kini aku telah tidak lagi disekolah yang ku rindukan, yang penuh kejutan itu. Tak terasa kini aku sudah masuk semester 3 di fakultas terkenal yang ada di kotaku, Jogja.
Sejenak aku terdiam dari pikiran yang ku bilang tak penting tadi itu dan kini tiba-tiba ku teringat tentang sosok pria jangkung yang selalu dengan tatapan tajam dan senyuman tipis dibibirnya, begitu indah hingga membuatku terenyuh. Dan aku mulai mengingat awal mula cerita beribu kesan itu.
"Hey! Kak Nana? Kamu Kak Nana XII-IPA2 kan?" Dari sudut ruangan khusus kawasan anak IPA suara bass itu menyapaku didampingi terpaan angin yang membuat rambutnya terkibas sempurna
"Hey! Iya, aku Nana? Ada apa ya?" Dengan tatapan tak biasa, aku menjawab sapaan orang yang menurutku masih asing ini
"Oh, iya. Kata Bu Vika, kamu pintar fisikanya ya? Boleh gak aku belajar sama kamu?"
"Oh, Bu Vika? I.. Iya, boleh lah. Tapi aku gak sepintar apa yang kamu kira kok. Oiya, kok manggilnya kakak sih?" Kenapa Bu Vika gak cerita ya? Gumamku
"Eh, hampir lupa. Aku Radit anak XI-IPA1, kak" Sembari menyodorkan tangannya
"Oh, iya. Pantesan aku jarang lihat kamu. Adek kelasku ternyata." Dengan senyuman tipis yang agak terpaksa
"Tetttt... Tettt.. Tettt" Bel menyebalkan itu sudah ber 'Tetttttt', sungguh menyebalkan memang.
"Nanti jam istirahat aku tunggu di kantin ya, kak." Teriaknya sambil berlari dan aku belum sempat meng-iya kan ajakannya itu, aku pun bergegas pergi kekelas yang penuh dengan cat putihnya dan baunya yang khas, kelas XII-IPA2.
Pelajaran pertama pun disambut dengan pelajaran Sejarah yang bikin pagi ini jadi ngantuk dan suntuk. Yaudahlah ya, nikmatin aja. -_-"
"Oke, jadi VOC itu didirikan pada tanggal berapa? coba siapa yang bisa jawab?"
'Dilihat-lihat dia cakep juga ya. Sayangnya adek kelas sih. Masa sama adek kelas sih aku...' lamunanku baru akan dimulai dan..
"Nana!"
"Eh.. eh iya, pak. Ciri gas ideal ya? yaitu ukuran partikelnya diabaikan terhadap ruang dan gerakannya random atau tidak beraturan" Seketika Pak Santo membuyarkan lamunanku
"Ini VOC, Nana! Bukan gas ideal! Ini SEJARAH! Bukan Fisika! Gimana to!" Teriakan itu hampir saja membuat telingaku berdarah dan gendang telinga retak-retak. huh
"Hehe.. VOC ya, pak? Maaf to." Jurus wajah tanpa dosa itu pun ku keluarkan.
"Lain kali jangan melamun. Kepiye to kamu ini, sekarang perhatikan lagi ya!" Ternyata sejarah serius juga ya, gaes
"Iya, pak." Kali ini aku tak berkedip menatap papan tulis tua yang tentu disibelahnya ada makhluk itu, guru tua yang baru saja memarahiku dan itu sungguh.. ya, itulah. Huh!
"Tetttt... Tettt.. Tettt" Bel menyebalkan itu berbunyi lagi tanda istirahat telah datang.
"Hyuhh.. akhirnya istirahat juga" Bisikku pada teman sebangkuku yang sekaligus sahabatku, Ineu. Ngomong-ngomong, setelah pelajaran Sejarah tadi dan 2 pelajaran lainnya aku merasa sangat lapar. Cacing-cacing diperutku sudah mulai dangdutan ternyata. 'kriyuk.. kriyukk'
Karena jam istirahat disekolahku sangat sempit, aku dan empat temanku segera bergegas kekantin yang ada disamping lapang basket. Setelah sampai kami pun langsung memesan makanan. Aku dengan somay spesialku, Iyus dengan batagornya, dan Ineu, Nuri, juga Adel mereka memesan bakso super pedas ala Pak Aan yang sok alay itu. Haha. Belum lama kami makan ada seorang yang berpenampilan dengan sepatu basket warna biru gelap, baju pemain basket tentunya dan wajah itu. 'Wajah itu? Wajah yang tadi pagi itu mengahampiriku lagi. Cool!' gumamku dalam hati hingga aku tak sadar aku menatapnya lama dengan tatapan yang...
"Hey, kak!" Sapanya dengan suara yang membuat aku tak ingin berlama untuk menjawabnya
"Hey, Randi! Mau makan juga ya? Sini gabung." Ajakku, mencoba menghilangkan rasa canggung dengannya
"Oh. enggak, kak. Aku cuma mau minta nomor handphone kakak, biar gampang kontekannya. Hehe."
'Ni bocah gak malu apa minta dikeramean gini. huh'
"Oh, iya. Nih, Di." Kuberi nomornya agar dia cepat pergi dan teman-temanku mulai dengan tatapan seperti singa hendak melahirkan
"Makasih ya, kakak cantik. Hehe. Oya, namaku Radit bukan Randi. Sore ini aku belajar sama kakak di kafe I***h ya. Dadahh." Dengan senyum yang menggelikan dia pun enyah dari pandanganku
"cie.. ciee.. gebetan baru ya? Kelas berapa tuh? Hihi" Dan acara goda-menggodaku pun dibuka oleh sibawel Ineu.
"Cie.. cie.." Sentak diwaktu yang bersamaan mereka berempat mengucapkannya dan itu sungguh memalukan. Semua mata kini menatap kami dengan tatapan 'aneh'
"Aaaaa... Cie cie, udahlah dia bukan siapa-siapa kok cuma adek kelas doang. Kalok makannya udah, yuk cabut!" Sebelum lebih panjang cerita memalukannya aku pun segera mengakhirinya
Hari-hari berikutnya aku jadi kepikiran dia, Radit. Aku selalu meyakinkan jika aku hanya mengaguminya dari awal bertemu, itu saja. Tapi semenjak kami sering belajar bersama seperti ada rasa yang lain, kami semakin dekat disini. Jika timbul sejenak rasa bosan dari masing-masing kami tentang 'les' ini, kami pun tak segan saling bercanda gurau hingga tertawa dengan lepas, membahas apapun yang kami suka. Itu selalu kurindukan akhir-akhir ini. Rasa apa ini? Rasanya bukan seperti hanya sekedar adik dan kakak kelas tapi entah apa itu. Jadwal belajarnya bersama ku sungguh teratur setiap sabtu dan minggu, dan selalu dia hadiri kecuali hari itu. Dia anaknya disiplin, mungkin karena dia anak IPA dan aku suka itu.
"Kak Nina! Jangan ngelamun dong. Rumus yang ini gimana?"
"Oh. Maaf, hehe. Yang mana?"
"Yang ini nih."
Detik demi detik, menit demi menit, dan jam demi jam menemani keasyikan kami. Hingga hari itu. Tak sadar waktu sudah sangat sore dan saat melihat kelangit. Itu begitu indah, matahari terbenam. Seolah melambaikan tangannya kearah kami yang saat itu berdiri bersampingan di teras lantai dua dirumah keluarga Ardiansyah.
Tiga bulan sudah kami selalu bersama dan aku merasa semakin menyayanginya dan nyaman disampingnya. Apa mungkin ini yang namanya cinta atau rasa sayang kakak kepada adiknya? Ah, entahlah. Kami bersahabat sejak awal bertemu, namun banyak orang mengira kami telah menjadi sepasang teman spesial atau disebut juga 'pacaran'. Mana mungkin pikirku, seorang Nina Ardiansyah berpacaran dimasa sekolah? Lagi pula itu tidak ada dalam kamusku.
Semester ganjil ini aku tak fokus karena selalu terpikir sosok bocah yang ceria itu. Teringat selera humornya yang bagus, berbeda sekali dengan kebanyakan anak IPA yang ku kenal. Waktu itu, aku berlalu disamping lapang basket dengan tatapan nanar. Dan itu lapang basket yang biasa ia pakai untuk berlatih dan..
"Dug.." Kepalaku terkena pukulan bola basketnya yang sungguh keras hinga aku terjatuh dan kepalaku berdarah karena saat ku terjatuh bagian kepalaku yang sebelah kanan mengenai batu krikil disamping lapangan. Mencoba bangun dan berjalan, aku malah terjatuh. Hingga akhirnya aku pun bisa berjalan meski sisimpuhan sambil memegang kepalaku yang sedang berdarah. Dia pun memapahku untuk duduk di kursi tembok terdekat dan mengusap darah yang keluar dikepalaku dengan handuk biru kecil miliknya "Maaf ya? Kamu gak kenapa-napa kan?". Setelah dirasanya cukup..
"Ayo, cepat naik ke punggungku!" Dia pun langsung menolongku untuk singgah dipunggungnya yang nyaman itu, mengantarku dengan motor birunya hingga sampai di rumahku. Tak cukup itu, ia lanjutkan mengantarku ke ruangan yang menurutku sungguh tak asing baunya. Dengan menggendongku yang masih terkapai lemas. Ia baringkan aku di tumpukan bantal-bantal hangat itu sampai akhirnya aku tertidur. Sebelum ia pergi kurasakan usapan tangannya dirambutku. Aku tetap dalam keadaan menutup mata, saat dia berlalu aku melihatnya hingga hilang bayangannya dari sudut pintu kamarku.
Semenjak itu rasaku menjadi-jadi. Begitu perhatiannya dia, pikirku. Kami saling cerita sana-sini, bercanda dan membahas hal-hal tak penting namun menarik, hingga dia menceritakan tentang itu. Dan 'DEG!' aku merasa sangat buruk dan sesak. Pertama kali aku merasakan ini. Ku kira menyayangi seseorang tak akan pernah merasakan yang sesakit ini. Lagi pula aku hanya seorang sahabat untuknya dan kakak kelas yang meskipun usia kami sebenarnya lebih tua dia enam bulan dibanding aku. Aku pun merasakan sakit sesakit-sakitnya.
Aku mencoba pergi ketepi danau belakang rumahku dan merenungi semuanya. Ku terduduk di tepi danau dibawah pohon yang cukup rindang dan melihat desiran air didanau itu dan terpikir.. Jika saja ku bisa mengungkapkannya dengan tulisan ini, mungkin...
Saat ku menyadari jika aku telah jatuh cinta, rasa yang ada hanya bahagia. Sungguh-sungguh bahagia. Namun kini bahagia itu berganti menjadi sesak.
Cinta, sebuah kata yang tak asing lagi bagiku. Tapi aku tak tau betul bagaimana rasanya jatuh cinta karena menurutku ini yang pertama dan ini sungguh-sungguh.. Ah, sudahlah.
Cinta, jika ingat kata itu maka akan muncul dihatiku rasa amarah, sedih, kesal bahkan bahagia. Entah karena apa, mungkin ya.. itulah cinta.
Oh, cinta. Inikah cinta? Kamu adalah cinta pertamaku, pertama rasa ini ada hanya kepadamu. Ya, kau yang disana. Tentu cinta tetaplah cinta.
Tanpa ku sadari, hari itu adalah hari dimana benih cintaku mulai tumbuh. Tumbuh dan merekah memenuhi ruang yang entah seluas apa didalam hati ini, relung hatiku yang kering. Seperti pepatah Jawa 'Tresno jalaran soko kulino', cinta bersemi karena sering bersama. Dan itu yang kurasa.
Aku tak pernah meminta cinta itu, tapi Tuhan berkehendak agar cinta itu bersemi dihatiku.
Kau yang disana, aku tak memiliki cukup alasan mengapa cinta itu bisa-bisanya merekah dan tumbuh dihatiku yang kering ini. Aku tak tahu sebab mengapa bisa-bisanya aku menyukai dan menyayangimu.
"Mencintaimu dalam diam" itulah yang ku rasakan saat ini dan mungkin selamanya. Awalnya cinta itu indah, dan sangatlah indah. Tapi mengapa sejak kau jadi sahabatku, cinta itu seperti selalu menusuk dadaku. Aku tak menyalahkanmu. Mungkin ini konsekuensi cintaku dan bagaimana pun aku harus menanggungnya.
Hari itu adalah hari dimana kita menjalin sebuah persahabatan. Dan hari itu pula aku tahu bahwa rasaku terabaikan. Kau cerita tentang cintamu pada sebuah tulang rusuk yang ada disana. Oh, jika kau tahu betapa hancurnya hati ini. Hancur sehancur-hancurnya. Rasanya ada yang patah didada ini. Setelah hari itu, kita menjadi semakin dekat dan kau tahu apa yang terjadi dengan hatiku? Semakin hancur.
Hari demi hari ku lalui dengan senyum palsu yang menghiasi bibir tipisku ini. Saat melihatmu pun aku jadi marah. Tapi aku tak bisa bohong aku masih peduli kepadamu. Dan aku masih mencintaimu! Walau aku marah, curahan hatimu tentang rusuk itu masih ku tanggapi. Tentang perasaamu, tentang sakitmu, tentang tersiksanya hatimu karena dia bahkan tentang air matamu itu yang terjatuh dengan derasnya hanya demi dia. Aku tak tega, sungguh tak tega. Aku takut jika aku tak memberimu motivasi kau akan masuk ke lembah yang bisa menghancurkan kamu. Aku takut akan hal itu, sungguh takut.
Kau yang disana, jika kau tahu betapa sakitnya hatiku mendengarmu menceritakan tentang dia, maka ku yakin kau tak akan tega melakukannya.
Kau yang disana, sekuat tenaga aku menyembunyikan perasaanku. Sekuat tenaga aku melupakanmu. Sekuat tenaga aku mencoba membencimu. Dan semua itu sia-sia, selalu gagal dan tak berhasil. Begitu sulit untuk melakukan itu semua.
Aku terlalu peduli denganmu. Bahkan saat cintaku itu semakin tumbuh dan bermerkahan walau kadang hangus karena sakitnya hatiku yang terbakar tak tertahan.
Tuhan yang maha memberikan cinta. Lapangkanlah dadaku, palingkanlah aku darinya. Hapus cintaku jika itu membuat aku menjauh dari-Mu. Tapi, jika cinta itu bisa membuat aku dekat dengan-Mu, maka aku rela hati ini retak bahkan hancur sekalipun.
Tapi sudahlah. Untuk apa tulisan tak penting ini, hanya membuat keruh saja. Kubuat perahu dan ku hanyutkan secarik suratku ini, surat tentang apa yang ada dalam hatiku, tentang apa yang selalu aku rasakan dan.. Hanya mampu berdoa layaknya seorang yang baru patah hati dan memang begitu. Setelah kurasa cukup mencurahkan hatiku pada desiran air di danau dan perahu kertas itu aku memutuskan untuk pulang.
**
Ujian Nasional pun siap menghampirikiku, menghampiri semua siswa kelas 12. Tentu aku akan menyambutnya dengan memfokuskan hanya untuk UN yang cukup mengerikan ini. Ngomong-ngomong tentang dia.. aku jarang bertemu dengannya lagi dari awal semester akhir, namun kami masih sering kontekan lewat sms kadang kami bertukar suara. Dan terakhir itu terjadi bulan lalu. Entahlah, satu bulan kami lost contact.
"Horeee.. lulus!" Riuh teman-teman bersorak bahagia. Kami saling minta tanda tangan dan bertukar untuk sekedar melumuri pakaian masing-masing kami dengan pilox (cat semprot warna-warni). Begitu bahagia semuanya. Walau ada juga yang merasa kecewa karena kelulusannya ditunda satu tahun lagi. Aku sendiri.. Entah apa yang kurasa. Disisi lain aku sangat bahagia karena aku lulus 100% tapi disisi lain aku sedih karena tidak bisa melihat sosoknya lagi.
Di riuhan anak-anak yang merayakan kelulusan, sosoknya nampak yang sebelumnya kukira hanya bayangannya saja dan..
"Selamat ya, Nina. Kamu lulus!" Pertama kalinya dia memanggil namaku tanpa kata 'kak' sebelumnya. Dan kembali menyodorkan tangannya dihadapanku, tanda melengkapi apa yang baru saja dia ucapkan.
Disitu aku hanya dapat menatapnya dan aku tak mengeluarkan kata walau satu huruf pun, aku juga tak ingin menjabat tangannya. Menurutku itu seolah-olah tanda perpisahan kami. Seketika itu juga dia memelukku. Begitu hangat dekapannya. Tak sadar jika saat itu aku meneteskan air mata tepat dibahunya.
Detik yang sangat mengejutkan saat itu ia melepaskan pelukannya dan menarikku dari keramaian menuju taman belakang sekolah. Dia pun bertanya padaku tentang perasaanku yang sebenarnya kepada dirinya. Saat itu aku hanya membatu, hanya mataku dan anggukan kepalaku lah yang berbicara. Disitu juga dia mengungkapkannya kepadaku bahwa dia juga menyukaiku. Dan wanita yang sering ia ceritakan padaku itu adalah aku sendiri. Tentang namanya, aku tak pernah menanyakannya. Namun itu seperti dongeng. Sungguh seperti dongeng.
"Mau ya jadi spesialku? Maaf, aku simpan rasa ini satu tahun lamanya. Sebenernya aku suka sama kamu semenjak aku tahu kamu dari temanku, Doni. Sejak saat itu aku pun sering memerhatikanmu saat kamu pergi kekantin. Dan tentang Bu Vika itu aku bohong. Aku hanya ingin dekat denganmu. Maaf ya. Kalau kamu gak nerima aku, gak papa kok."
Disitu aku masih diam seribu bahasa. Hingga akhirnya aku menganggukan kepalaku seraya berkata.. "iya, aku mau." Dia pun langsung mendekapku erat. Disitu kami menjadi sepasang kekasih yang benar-benar kekasih. Cinta dalam diam memang sakit, tapi nanti ada saatnya kamu mendapatkan yang sejati dan terbuka tanpa terus menyimpannya.
Yeeee.. Tamat. Belum dan tidak akan tamat, kini aku masih bersama sosok jangkung itu. Liburan semester depan kami akan bertemu lagi. Kini dia sedang menuntut S2-nya di Austria dengan jurusan Fisika-Nuklirnya. Udah deh, tamat aja. Hehe.
*Ini diadopsi dari cerita gaje sebelumnya